Keinginan Mencari Itu Penting Bagi Mahasiswa



WEEKLYLINE.NET_ Dalam Kondisi yang ada, kita harus bisa berusaha untuk berkembang, keinginan untuk mencari menjadi sangat penting baik bagi Tenaga Pengajar maupun Mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan

Insititut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) Kabupaten Flores Timur, Jumad, 10 Januari 2014 melantik Badan Pengurus BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Periode 2013/ 2014.

Kegiatan Pelantikan Badan Pengurus BEM IKTL terlaksana di Kapela Susteran CIJ Waibalun. Kegiatan Pelantikan dikemas bersamaan dengan misa kampus yang merupakan kegiatan rutin setiap bulan, juga merayakan Natal dan Tahun Baru bersama.

Pengurus BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) IKTL yang dilantik diantaranya Adrianus Tobi Hurint sebagai Ketua, Yosef Antonius T. M. Kelen sebagai Wakil Ketua dan Sekretaris Maria Agustin Gresya Fernandez.

Rm. Dr. Gabriel Unto da Silva , Pr Rektor Insititut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) dalam acara pelantikan mengajak seluruh Civitas Akademik IKTL untuk bisa membuat perubahan-perubahan pada Lembaga IKTL untuk lebih baik pada waktu yang akan datang sesuai dengan Visi Misi lembaga.

“Dalam Kondisi yang ada, kita harus bisa berusaha untuk berkembang, keinginan untuk mencari menjadi sangat penting baik bagi Tenaga Pengajar maupun Mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan,” ungkap rektor.

Adrianus Tobi Ketua BEM IKTL dalam pidatonya menyampaikan bahwa setelah kepengurusam mereka dilantik maka tugas selanjutnya adalah akan melaksanakan rencana strategis (Restra) yang sudah dibuat oleh Pembantu Rektor (PUREK III), sebagai bentuk dukungan program kerja Purek III.

“Saya mengajak Semua teman-teman yang tergabung dalam Pengurus dan seluruh teman – teman mahasiswa untuk bisa bekerja sama dalam melaksanakan program yang ada. Ada sekian Program yang akan dilaksanakan tetapi yang paling paling pertama yang akan kami lakukan adalah Penguatan Kelembagaan BEM, kami berkeyakinan bahwa dengan penguatan Kelembagaan BEM, bisa berdampak positif pada program – program yang lain,” ungkap Adris.

Elfridus Sutomo Beramang
Sementara itu, Pembantu Rektor III IKTL Elfridus Sutomo Beramang, S.Pd, M.Si dalam sosialisasi Restra setelah acara Pelantikan mengatakan bahwa BEM merupakan Lembaga Kemahasiswaan yang sangat Penting dalam mendukung program kerja Purek III dalam kaitan dengan perealisasian Restra yang sudah dibuat, juga sebagai lembaganya Mahasiswa dalam peningkatan minat dan Bakat Mahasiswa serta Pembentukan Karakter dan mental mahasiswa sebagai Generasi Penerus Bangsa.

Adanya BEM pada Institut Keguruan dan Teknologi akan sangat membantu Mahasiswa dalam memperjuangkan hak-haknya sebgagai Mahasiswa dalam perjalanan studi di Lembaga. Kami berharap semoga BEM yang sudah terbentuk mampu melaksanakan tugasnya secara baik, dan yang terpenting adalah bisa bertanggungjawab dan jujur dalam mengemban tugas yang diberikan.

“Dipundak adik-adik sekalian teman- teman mahasiswamu menitipkan beban tugas yang harus bisa kamu tunaikan demi kesehjateraan bersama di Kalangan Mahasiswa secara Khusus dan kepentingan Lembaga Pada Umumnya,” kata Elfridus.

Elfridus menutup sosialisasi Renstra dengan mengajak seluruh Mahasiswa untuk terus mensosialisasikan keberadaan IKTL sebagai salah satu Perguruan Tinggi di Kabupaten Flores Timur yang sudah resmi mendapat ijin Operasional (IO) sehingga bisa membantu masyakat Flores Timur untuk mengenyam pendidikan di daerahnya sendiri di Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL).

Untuk diketahui, IKTL adalah sebuah Lembaga Keguruan dan Teknologi yang berdiri di Larantuka dan mendapat Ijin Operasional dari Dirjen Dikti Pada tanggal 18 Juli 2013 dengan membuka 2 Fakultas yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Teknologi.

Juga terdapat 7 program Studi, yakni program studi Pendidikan bahasa indonesia, Pendidikan bahasa inggris dan sastra, Matematika, Penjas, Ekonomi, Perikanan dan Komputer. Jumlah Mahasiswa di Tahun 2014, sebanyak 240 Mahasiswa yang berasal dari Flores Timur daratan, Adonara, Solor, dan juga Lembata. (Maksimus Masan Kian)

Tuwagoetobi Kesulitan Air Bersih


WEEKLYLINE.NET_Tuwagoetobi, salah satu desa di Adonara, Kecamatan Flores Timur, kesulitan air bersih sejak tiga bulan lalu.

ilustrasi
Kekeringan air Minum yang melanda desa Tuwagoetobi Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur semakin meresahkan masyarakat Desa Setempat. Terhitung kurang lebih 3 Bulan sudah Masyarakat Desa Ini, tidak menikmati air Leding yang selama ini menjadi satu – satunya sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari –hari.

Sebagai Sumber Pemenuhan kebutuhan dasar manusia, air memang sangat dibutuhkan dalam setiap aktivitas hidup manusia baik untuk minum, mandi, cuci dan juga kebutuhan lain yang tidak bisa digantikan.

Warga Desa Tuwagoetobi selama ini mendapatkan sumber air bersih dari Wai Lebe yang terdapat di Desa Tapobali Kecamatan Klobagolit. Selain Desa Tuwagoetobi, 4 Desa lain pada wilayah kecamatan Witihama yang menggunakan air dari sumber air yang sama ini adalah Desa Riangduli Watololong, Lewokemie, dan Desa Woka.

Aleksander Palihama dan Florianus Lamapaha, Warga Desa Tuwagoetobi kepada WEEKLYLINE.NET, Sabtu 11 Januari 2014,  menungkapkan, kekeringan air di Desa Tuwagoetobi memang sudah sangat meresahkan masyarakat, ditambah lagi sejak ada pemutusan Pipa dari sumber Mata Air di Desa Tapobali, panitia yang mengurus air dan juga pemerintah Desa Tuwagoetobi hingga hari belum juga menempuh jalan keluar penyelesaiannya.

“Masyarakat kesulitan mendapatkan air minum sejak tiga bulan terakhir. Awalnya kami masih terbantu dengan air hujan, tetapi sudah 2 minggu ini hujan sudah tidak turun. Untuk air minum saja sekarang sudah sulit apalagi untuk mandi dan minum. Untuk mengatasi kesulitan air, warga harus membayar ojek dan jasa mobil pick up untuk memnfaatkan air sumur dipesisir pantai terdekat dengan jarak tempuh empat sampai lima kilometer dari Kampung untuk mandi dan cuci,” ungkap Palihama.

Sementara untuk mendapatkan air bersih untuk minum masyarakat menggunakan jasa Ojek dan oto picup untuk mengambil air minum di Desa Watoone yang merupakan desa tetangga pada wilayah kecamatan Witihama.

Florianus Lamapaha warga dusun Lewoblolon Desa Tuwagoetobi juga mengatakan hal yang sama. Dengan tidak jalannya air untuk beberapa bulan memang sangat menyulitkan warga karena rata-rata disetiap rumah warga tidak memiliki penampung yang cukup.

Warga yang memiliki bak penampung di rumah tidak banya, sehingga dengan kondisi keringnnya air sekarang memang sangat meresahkan. Lanjut Flori, warga dalam kondisi yang serba sulit ini, harus bisa bersabar dan harus bisa menyisihkan sekian pendapatnnya untuk membeli air bersih.
“Warga Desa Tuwagoetobi sejak mengalami kesulitan air, membeli pertangki dengan harga Rp. 240.000 (Dua Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah). Air yang kami beli berasal dari Desa Watoone,” ungkap Flori.

Sementara itu, Kepala Desa Tuwagoetobi yang dihubungi tidak memberikan jawaban apa-apa terkait kekeringan air yang terjadi di Desa yang dipimpinnya.

Untuk masyarakat Lamaholot pada umummnya melalui ceritra sejarah, diyakini bahwa untuk mendapatkan sebuah sumber mata air harus diganti dengan gadis. cerita sejarah adat Lamaholot diantaranya mata air di Desa Bama Kecamatan Demon Pagong muncul mengorbankan satu gadis.

Selain itu, ceritra sejarah yang sama terjadi pada wai Bele di Desa Lewopulo Kecamatan Witihama, juga di Wai Lawe desa Tapobali kecamatan Klubagolit yang dalam ceritra bahkan sampai mengorbankan tujuh (7) gadis yang kemudian memunculkan tujuh mata air diwilayah itu.

Dari ceritra sejarah ini, memang menggambarkan bahwa sumber mata air di Wilayah Lamaholot tidak mudah untuk didapat. Selain itu, sumber air yang sudah ada harus mendapat perawatan yang rutin serta menjaganya dengan tetap mengadakan ritual-ritual adat yang diyakini akan menjaga sumber air yang ada. (maksimus masan kian)

Laman

Kategori

Pengunjung

Kategori